MASA SMP
Namaku Aisyah, tak hanya wajahku yang cantik, namun orang tuaku berharap akhlak ku pun secantik akhlak Istri Rasulullah. Menjadi muslimah yang taat merupakan cita citaku dari kecil,namun karena aku tinggal di lingkungan dan teman teman yang kurang mendukung, membuat cita cita ku sedikit terhambat.
Kala itu, aku sekolah di SMP Negeri di daerah Jawa Tengah. Layaknya siswi yang lain, aku menjalin hubungan dengan seorang laki laki, tepatnya adik kelasku. Namanya Ilham. Tak hanya pacaran,bicara kotor sudah menjadi langgananku dan teman teman.
Dua bulan menjelang kelulusan, aku sangat stress memikirkan masa depan. Bagaimana dengan sekolahku setelah ini, bagaimana dengan cita citaku. Hingga tak sengaja aku mendapatkan info mengenai sekolah dengan basic agama dan umum yang bagus.
Menghafal al qur’an,berpakaian syar’i, berakhlak baik membuatku tertarik untuk mendaftar di pesantren itu. Tak pikir panjang, aku pun berbegas memberitahu mamahku mengenai perihal ini.
Kami berdua berdiskusi panjang. Ya hanya berdua, karena mamah dan Abah telah berpisah sejak aku kecil. Sebelum menentukan hasilnya, aku berusaha berbicara dengan abah lewat telfon, tak kusangka ternyata Abah menyetujui hal ini.
Tak lama kemudian,aku pun mendaftar di pesantren yang sesuai dengan kriteriaku. Setelah melalui beberapa tahap penyeleksian akhirnya aku pun diterima . Saat aku melihat daftar nama siswi yang di terima, ada perasaan cemas, takut, grogi bercampur menjadi satu pada saat itu. ku lihat namaku ada di paling bawah.
Namun setidaknya aku merasa Bahagia dan bersyukur, karena Allah memberiku kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Saat yang sama, aku pun langsung memberi tahu Ilham.
“Ilham..aku diterima di pesantren yang selama ini aku inginkan”.
kataku dengan gembira
“ Alhamdulillah, semoga kamu betah, semangat meraih cita cita. Walaupun aku tidak bisa melihatmu lagi untuk 3 tahun ini..tapi jika ini bisa membuatmu bahagia,maka aku juga akan bahagia untukmu”.
“Aaaaa…. so cute,makasih Ilham untuk semuanya”.
“sama sama…Aisyah ? bolehkah aku menanyakan sesuatu hal kepadamu ?”
“ Tentu”.
“Apakah kau akan tetap menjadi Aisyah yang aku kenal ? walaupun menjadi lebih baik dariku ?”
“Sejujurnya, kau tak tahu apa yang akan terjadi tiga tahun mendatang. Aku pun ragu terhadap diriku…dan aku belum bisa menjawab pertanyaanmu saat ini. Tapi percayalah jika kita ditakdirkan oleh Allah untuk berjodoh, maka tak ada yang bisa memisahkan kita kecuali maut”.
“ Aku berjanji Aisyah, akan melamarmu 10 tahun lagi. Disaat aku siap dan kamu siap, aku akan menjemputmu”.
“ Dan aku berjanji juga untuk setia menunggumu”.
Juni 2017,wisuda kelulusanku dan teman teman pun digelar. Namaku dipanggil untuk naik ke atas panggung. Aku bingung kenapa di panggil ? apakah aku melakukan kesalahan ? tanyaku dalam hati.
Namun jauh dari dugaanku, ternyata aku dinyatakan sebagai lulusan terbaik dengan nilai rata 9,80. Akhirnya perjuanganku selama ini tak sia sia. Mamah… abah… this is for you……
MASUK PONDOK
Tibalah saatnya aku berangkat ke pesantren. Jarak rumah ke pesantren sekita 12 jam jika ditempuh menggunakan mobil. Sebelum berangkat, aku menyempatkan diri untuk melakukan panggilan video bersama Ilham.
Karena keluargaku tidak tahu hubunganku denganya,Ilham menangis histeris, dia tidak ingin aku pergi. Namun semua sudah terjadi, aku tetap harus berangkat demi membahagiakan orang tuaku dan meraih cita citaku.
Sebenarnya aku pun menangis, namun aku tak ingin membuat Ilham semakin sedih dengan tangisanku. Mencoba meyakinkannya dengan segala cara bahwa semua akan baik baik saja. Hingga akhirnya Ibuku pun memanggilku. Aku harus segera berangkat.
“bye Ilham, I’ll be right here waiting for you”.
Menjadi saat terakhir aku melihatnya…
12 jam perjalanan bersama ibu dan kakaku, akhirnya aku pun sampai di pesantren. Yang aku bayangkan pertama kali saat datang, bagaimana keadaan ibuku nanti ? siapa yang akan membantunya ? bagaimana jika ibuku sakit ? bayang bayang itu selalu menghantuiku.
Namun aku tak ingin terpuruk dengan sugestiku sendiri. Aku tak ingin cita citaku terhenti karena sugestiku. Berusaha menegarkan diri, semua akan baik baik saja….. aku yakin.
Setelah semua urusan selesai, ibu dan kakak berpamitan untuk pulang. Tangis pun pecah ,kami saling peluk dan saling menguatkan. kalimat yang aku ingat dari ibuku saat itu
“semangat, kamu harus bisa mengangkat derajat dirimu, kamu harus buktikan bahwa anak broken home, broken money, tidak menghalangimu untuk menjadi orang yang baik. Tetap rendah hati, dan serahkan semua kepada Allah. Mamah dan abah selalu berdoa yang terbaik untukmu”
Kata kata itu yang membuatku kuat dan semangat.
Tinggalah aku sendiri dengan orang dan lingkungan yang baru. Aku bukan type orang yang cepat akrab, namun kondisi yang memaksaku untuk memulai. Di pesantren, aku dekat dengan semua orang termasuk para Ustadzah.
Aku tak ingin terjebak dalam masalalu, megasingkan diri dan menjadi pemalu. Aku harus bangkit, aku harus aktif,aku harus semangat untuk segala hal. Awalnya aku merasa berat dengan tugas dan tuntutan dari pesantren,namun teman teman selalu mendukung dan memberiku motivasi.
Maya,sahabat terbaikku yang selalu mendukung di saat terpuruk atau senangku. Ia sering kali memberiku nasihat, apa itu makna dan tujuan hidup, bersosialisasi, amal ma’ruf nahi munkar dan masih banyak lagi yang beliau ajarkan.
Dengan motivasi dari teman teman, membuat aku bisa menjalani kehidupan pesantren dengan normal dan baik tanpa adanya hambatan.
Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa dua tahun sudah aku berada di pesantren ini. Dan tak terasa hafalanku tinggal tiga juz saja. Nothing is impossible, walaupun aku bukan dari pesantren namun aku bisa mengalahkan teman temanku yang lulusan
pesantren. Selama ada ridho Allah dan doa kedua orangtua bersamaku, maka semuanya akan baik baik saja.
Singkat cerita, hari yang ditunggu pun tiba. Hari wisada tahfidz serta wisuda kelusan. Kedua orang tua dan kakak ku turut hadir untuk melihatku wisuda. Seperti halnya di SMP, sekali lagi aku dinyatakan sebagai ulusan terbaik dalam bidang hafalan
ataupun akademik.
Sebagai lulusan terbaik, Ustadzah menyuruhku untuk memberikan kesan dan pesan selama aku nyantri di pesantren. Lantas aku pun naik ke panggung…
“ Segala puji bagi Allah yang telah memberi kemudahan bagi saya dan bagi teman teman. Teruntuk mamah dan abah…terimakasih banyak atas doa, usaha, kerja keras kalian untuk ku. Terimakasih juga untuk para asatidz dan asatidzah yang telah bersabar dalam membimbing kami. Memberi kami banyak pelajaran hidup. Mengenalkan haram dan halal,mengenalkan apa itu hukum Allah. Terimakasih untuk semuanya. Dan untuk teman temanku, terimakasih untuk tiga tahun ini. Terimakasih motivasi dari kalian semua adalah penyemangat. Semoga kita bisa berkumpul kembali kelak di syurga, menjadi sahabat untill jannah…. ukhibbukum fillah “.
2 hari setelah wisuda,aku dan teman temanku pun kembali pulang ke rumah masing masing. Sedih namun inilah kehidupan, ada pertemuan ada perpisahan. Aku berharap kami akan bisa berkumpul kembali di syurganya Allah kelak…
PERPULANGAN
Tak seperti waktu berangkat, perjalananku kali ini lebih lama mungkin karena menjelang lebaran. Banyak kendaraan yang membuat kendaraan kami berjalan dengan lambat.
Cukup melelahkan, 19 jam aku dan keluarga ku baru sampai rumah. Sesampainya di rumah, kami pun langsung membersihkan diri dan tidur. Karena memang saat kami sampai di rumah tengah malam.
Pagi harinya, aku mendapatkan chatt masuk banyak sekali. Entah dari mana teman temanku bisa tahu bahwa aku telah sampai di rumah. Tak hanya temanku, bahkan masalaluku kembali hadir dalam kehidupanku. Ilham kembali memberi pesan..
“Assalamualaikum warahamatullah wbarakaatuh…Asiyah ? Bagaimana kabarmu ?masih ingat aku ? Aku dengar kamu sudah balik pondok ya?”
“Waalaikummussalam warahmatullah wabarakaatuh. Maaf Ilham, sepertinya sampai di sini saja hubungan kita,aku tidak ingin kita berlarut larut dalam perbuatan dosa dan maksiat”.
“Maksud kamu Aisyah ? Selama 3 tahun ini aku terus menunggumu…berharap aku bisa melihatmu kembali, bersama denganmu selalu… tapi nyatanya ? Aku berusaha menepati janjiku, aku mengumpulkan uang untuk masa depan memenuhi janjiku, namu apa yang kau buat? Kamu menghancurkan semua mimpi dan harapanku”.
“Maaf Ilham, aku tidak bisa mengatur apa yang akan terjadi. Ini semua telak menjadi kehendak Allah. Allah tahu mana yang baik dan buruk untuk hamba Nya. InsyaAllah akan ada kebahagiaan untukmu dan untuk ku. Percayalah, Allah akan mengganti semuanya dengan apa yang jauh lebih baik”.
Tidak ada jawaban dari pesanku,hanya centang biru yang tersisa. Aku faham, Ilham pasti sangat kecewa namun aku tak ingin menggadaikan cinta Allah dengan cinta manusia.
Aku berusaha mengikhlaskan dan melupakan semua yang pernah terjadi di antara kami. Aku mencoba melupakan semua kenangan tentang Ilham. Dari nomer, foto, pesan, dan semua kenangan yang tersimpan dalam memori hati dan pikiranku. Fokus dengan cita cita yang masih harus aku kejar.
Selain menjadi hafidzah, aku mempunyai cita cita untuk mendirikan komunitas hijrah akhwat, dan panti asuhan untuk yatim dan dhuafa. Bersama kaka perempuanku, aku ingin sekali kami bisa mencapai cita cita itu.
KULIAH
Aku dan kaka perempuanku hanya selisih 1 tahun. Berbeda denganku yang berani hijrah setelah lulus SMP, beliau memulai hijrahnya setelah lulus SMA. Memberanikan diri dengan mencoba hal baru.
Hanya dalam waktu 1 tahun beliau bisa menyelesaikan hafalannya. Kami lulus secara bersama, aku lulus dari sekolah jenjang SMA, kakakku lulus dari pesantrennya.
Setelah lulus, kami ingin melajutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi.Bercita cita kuliah di Universitas LIPIA Jakarta membuat kami saling mendukung dan membantu agar kami bisa di terima di Universitas LIPIA.
Tujuan kami melanjutkan pendidikan ke LIPIA yaitu untuk meringankan beban orang tua, dan untuk menambah ilmu supaya kami bisa berbagi ilmu lebih banyak lagi
kepada orang lain.
Setelah 2 bulan kami menunggu, Alhamdulliah sekali lagi Allah membantu kami meraih cita cita. Saat kuliah, kami bekerja paruh waktu menjadi guru mengaji online. Lumayan bisa menambah uang jajan, supaya tidak merepotkan orang tua.
Selain itu uangnya bisa ditabung untuk modal usaha kecil kecilan. Kami tahu, mendirikan yayasan memerlukan banyak modal, maka dari itu kami selalu mengumpulkan uang untuk modal usaha. Jika usaha berkembang, maka uangnya bisa digunakan untuk mendirikan yayasan.
Orang tua kami mengajarkan kami untuk tidak meminta, oleh karena itu mau tidak mau kami harus berusaha dua kali lipat untuk bisa mendapatkan uang. Kami tidak ingin mengandalkan para donatur. Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Itu prinsip kami.
Selama 4 tahun kuliah dan menjadi guru mengaji online,Alhamdulillah tabungan kami sudah cukup untuk membuka usaha. Rencananya kami akan buka usaha jualan pakaian muslimah dan perlengkapan. Seperti sekolah lain, setiap tahun universitas
kami mengadakan wisuda kelulusan.
Alhamudillah, kali ini kakaku yang menjadi lulusan terbaik di LIPIA. Aku ikut senang dan bangga. Kehidupan terus berputar,kadang di atas kadang di bawah. Membuatku semakin bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah kepadaku. Kami memang keluarga broken home but NOT broken dreams.
PERPULANGAN KEDUA
4 tahun sudah kami menjadi siswa di universitas LIPIA, walaupun ilmu kami belum cukup banyak, namun banyak atau dikit ilmu seseorang tetap harus disampaikan.
Apalah gunanya banyak ilmu namun tidak bermanfaat bagi dirinya atau pun orang
lain. Dua minggu setelah kelulusan kami pulang ke rumah. Cukup dengan mengendarai bus pariwisata untuk mengemat uang, kami pun akhirnya sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, kami beristirahat sejenak berfikir bagaimana caranya kami mendapatkan barang ayang murah namun dengan kualitas yang baik. Selain banyak peminatnya, kami tidak ingin pakaian yang seharusnya mudah, malah menjadi sulit untuk dipakai karena harganya yang mahal.
Prioritas kami bukan uang, namun membantu saudara saudara seiman dengan memudahkan mereka mengenakan pakaian yang di ridhoi Allah. Merintis usaha dengan berjualan baju online, tidak membuat kami menyerah untuk menggapai cita cita.
Walaupun dalam bisnis itu ada pasang surutnya. Tertipu, rugi sudah menjadi hal yang biasa bagi usaha kami. Namun usaha tidak akan pernah menghianatai hasil. Setelah 3 bulan kami menjalankan usaha, Alhamdulillah omsetnya semakin naik.
KOMUNITAS HIJRAH DAN YAYASAN
Dengan naiknya omset, kami bisa membuat komunitas hijrah. Awalnya hanya mengajak teman teman saja, namun semakin lama banyak orang yang tertarik dengan komunitas hijrah.
Dengan kegiatan yang seru dan meet up tiap minggunya, membuat komunitas hijrah kami banyak yang meminati. Aku dan kaka tidak pernah memungut biaya sama sekali untuk kegiatan ini. Sebisa mungkin kami memfasilitasi apa yang dibutuhkan dalam berlangsungnya kegitan.
Dari panah,sepeda,makanan dan minuman, tempat dan materi selama kegiatan berlangsung. Alhamdulillah Allah mencukupkan hasil usaha kami untuk membahagiakan orang lain,berjihad di jalan Allah.
Tak hanya itu, uang hasil penjualan baju muslimah,bisa diputar menjadi properti. Dengan hasil usaha yang kami rintis, yayasan panti asuhan dan dhuafa pun bisa dibangun.
Komunitas hijrah semakin berkembang, banyak dari teman yang akhirnya memutuskan untuk menutup semua aurat mereka, serta mengahafal kalamullah. Cita cita kami semakin dekat untuk tercapai.
Di usiaku yang baru 25 tahun, Allah sudah memberi amanah kepadaku serta kakaku untuk menjadi pengasuh bagi anak anak yatim dan dhuafa. Kebahagiaan telah datang. Sekalipun kami dari keluarga yang kurang mampu dan broken home tapi orang tua kami bisa mendidik untuk menerima takdir.
Sehingga kami bisa menjalani hidup ini dengan nyaman tanpa ada kerisauhan di hati kami. Semua itu karena peran dari orang tua kami yg sangat besar. Tanpa pernah aku pikirkan, Allah tiba tiba mengirimkan sosok laki laki yang sholeh untuk menyempurnakan keimanan salah seorang dari kami.
Yusuf, hafidz yang bekerja sebagai dosen di salah satu universitas Indonesia. Berencana melamar salah seorang diantara kami. Karena usiaku yang lebih muda, Qadarullah ka Yusuf memilih kakaku.
Aku ikut senang dengan dipilihnya kakak sebagai pasangan beliau. Orang tuaku,kakaku perempuan dan kakaku laki laki semua nya mendapat keberkahan sendiri dalam kehidupannya.
Satu bulan kemudian, akhirnya kakaku telah sah menjadi seorang istri. kakaku telah menjadi milik orang lain. Orang tuaku bangga dan bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada keluarga kami.
Tak hanya keluarga, teman teman hijrah kami beserta adik adik panti ikut merasakan kebahagiaan atas pernikahan kakaku. Hari sabtu, seperti biasa aku dan teman teman hijrah meet up.
Kebetulan hanya aku yang bisa mengisi kajian waktu itu. Karena kaka masih ada acara di rumah mertuanya. Kami melaksanakan kegiatan selama 4 jam. Setelah selesai kegiatan, aku pun menghampiri sepeda motorku yang terpakir rapi di tempat parkir. Belum sempat untuk menaiki motor, salah seorang temanku menghampiriku.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabaraakaatuh. Ukhty,afwan…ana ingin bicara dengan ukhty Aisyah”
ucap ukhty Amel
“ Waalaikummussalam arahmatullah wabarakaatuh,baik ukh silahkan”
“ Begini ukh,saya mempunyai kakak laki laki. Kebetulan beliau belum menikah dan sedang mencari istri. Ana ingin sekali ukhty menjadi bagian dari keluarga ana, menjadi kaka ipar ana”.
“ MasyaAllah ukh, mengenai jodoh hanya Allah yang tahu, namun jika sekiranya beliau benar benar serius,maka langsung saja datang kerumah dan meminta izin langsung ke orang tua”.
“Yang bener ukh?”
“InsyaAllah…”
Setelah berbincang cukup lama, aku pun kembali ke yayasan untuk mengurusi adek adek lagi. Anggapan akan sampai rumah dengan selamat, tiba tiba lenyap saat kecelakaan menimpaku di jalan.
Aku tak ingat penyebab pasti kecelakaan terjadi, yang teringat hanya saat truck besar menabrak bagian depan motor yang mengakibatkan aku terlempar sejauh 20 meter dari lokasi kejadian.
Kepalaku terbentuk keras dengan batu besar di pinggir jalan. Ku lihat orang orang mengelilingiku, ada yang panik namun ada juga yang menangis melihat keadaanku karena darah yang tak berhenti mengali rdari kepala dan tangan.
Tidak jelas siapa yang membawaku Rumah sakit. Saat aku bangun dari koma, keadaan sekitar menjadi gelap. Entah lampu yang tidak dinyalakan atau kedua mataku yang sudah tak berfungsi dengan baik ?
“ Mah tolong nyalakan lampunya, Aisyah tidak bisa melihat dalam kegelapan”.
Sontak perkataanku membuat mamah terkejut.
“ Lampunya sudah menyala dari tadi Aisyah”.
jawab mamah
“ Tapi kenapa semua nya menjadi gelap ya mah ?”.“ Fatimah, tolong panggil dokter !”
ucap mamah kepada kakak. Kakak pun mencari dokter dan memintanya untuk memeriksa keadaanku.
“ Jadi begini bu, akibat benturan keras yang terjadi di kepala Aisyah mengakibatkan kedua saraf mata nya tidak bisa berfungsi dengan normal lagi, Aisyah mengalami kebutaan yang hanya bisa disembuhkan dengan donor mata saja.”
“ Innalillahi wainna ilaihi raaji’un, yang sabar ya nduk, Allah ingin mengangkat derajatmu dengan ujian ini”.
“ Yang sabar dan kuat ya dek, kami disini akan selalu membantu adek”.
Mamah dan kakak berusaha menenangkanku.
“ Aku takut, mata yang tidak bisa melihat membuat cita cita ku selama ini terhambat. Aku takut jika tidak bisa amanah lagi untuk memegang tanggung jawab teman teman komunitas hijrah dan adik adik panti”.
“ Tidak apa apa nak, InsyaAllah kamu masih bisa menjalankan amanah ini”.
“ Iya dek, nanti kita cari musyrifah baru untuk membantu berjalannya kegiatan yayasan dan komunitas hijrah”.
“ Ka, mah…tolong rahasiakan kebutaanku ini dari adek panti dan teman komunitas ya ? Biarkan mereka mengetahui dengan sendiri setelah Aisyah keluar dari Rumah Sakit”.
“ Iya Aisyah, kami akan merahasiakan hal ini”
Saut Ka Fatimah
Tak lama di rumah sakit, dokter mengizinkan ku pulang ke rumah. Dengan syarat tidak boleh terlalu capek dan stress. Karena akan berakibat fatal bagi kesehatan. Sesampainya di rumah, adek adek panti kaget melihat keadaaanku yang sudah tidak bisa melihat lagi.
Mereka cemas dan khawatir, namun aku berusaha meyakinkan bahwa aku masih bisa menjalankan rutinitas seperti biasa. Ini salah satu cara Allah untuk mengangkat derajat seorang hamba.
Ketika sedang murojaah harian bersama adek adek panti, terdengar bunyi “tok tok tok” dari ruang tengah. Aku pun segera meninggalkan halaqah menuju pintu ruang tengah untuk melihat siapa yang datang.
“Siapa ya ?”
tanyaku
“ ukhty Amel ukh”.
“Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh”
“Waaalaikummussalam warahmatullah wabarakaatuh… ada apa ya ukh ? oya mari silahkan masuk ukh”.
Aku dan ukhty Amel pun masuk dan duduk di kursi ruang tengah
“Apa yang terjadi dengan ukhty ? Innalillahiwainna ilaihi raji’un.”
Kata ukhty Amel dengan nada terkejut melihat keadaanku.
“Qadarullah, ana mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang kemarin”.
Jawabku
“syafakillah ya ukh, maaf ana tidak tahu mengenai kabar ini”.
“ Tidak apa apa ukh, memang ana sengaja tidak ingin ada yang tahu tentang kondisi ana. Oya ukh, apa yang membuat ukhty Amel datang malam malam ?”
“Begini ukh, saya ingin melamar ukhty Aisyah untuk kakak saya, Ilham”.“ masyaAllah “
teriakku dengan terkejut.
“Iya benar, saya sedang mencari pendamping hidup untuk menyempurnakan iman. Jujur, sebenarnya aku tidak tahu kalau orang yang dijodohkan denganku adalah kamu Aisyah. Butuh waktu lama untuk melupakan semua kenangan kita, namun seperti apa yang pernah kamu bilang dulu, jika Allah menghendaki dua insan untuk bersama, maka tidak akan ada yang bisa menghalangi kebersamaaan kecuali kematian. Dan ya,hari ini Allah membenarkan apa yang kau katakan dulu. Asiyah, hari ini aku ingin melamarmu untuk menyempurnakan imanku. Sudikah kamu menjadi pasangan hidupku ? menghabiskan sisa hidup bersama dalam ketaatan ?”
ucap Ilham
“ Saya ibunya Ilham nak Aisyah. Alhamdulillah Ilham sekarang sudah menjadi seorang dokter dan hafidz. InsyaAllah Ilham akan bisa menjadi pemimpin yang baik untuk mu dan keluarga kecilmu kelak”.
Saut Ibu Ilham.
“ Dengan kondisiku yang seperti ini, apa kamu siyap Ilham ?”
“InsyaAllah aku siyap, aku akan menerima segala kekurangan yang ada dalam dirimu”.
Jawab Ilham.
Aku meminta izin untuk berfikir sejenak untuk memutuskan hal ini.
“ Maaf bu sebelumnya, bolehkah saya meminta waktu untuk berfikir ?”
“Boleh nak, silakan “
Aku menarik tangan mamah yang kebetulan berada di sampingku untuk masuk ke kamar dan berdiskusi untuk keputusan yang berat ini.
Hanya ada mamah dan ayah tiriku saja yang ada di rumah saat itu. Jadi aku hanya bisa berdiskusi dengan mamah saja. Karena ayahku harus among tamu.
“ Nak jika memang kamu menyukai Ilham, InsyaAllah mamah akan menerima dan merestui kalian. Mamah lihat Ilham anak yang baik, mapan dan sholeh”
“ Sebenarnya dulu Aisyah pernah menjalin hubungan dengan Ilham. Namun hubungan kami harus putus di tengah jalan. Aisyah tidak ingin membuat Allah murka dengan perilaku yang diharamakan. Aisyah sempat tak percaya ketika Ibunya Ilham bilang kalau Ilham telah menjadi seorang hafidz. Karena setahu Aisyah, setelah kita berpisah..banyak teman Aisyah yang mengatakan bahwa Ilham sekarang berubah. Semakin menjadi jadi ulahnya. Namun siapa sangka, Allah memberikan hidayah kepada siapapun yang dikehendaki”.
“ kamu sudah mengenal Ilham dari dulu, sekarang keputusan ada ditanganmu. Mengingat umur kamu sudah cukup untuk menikah, maka menikahlah dan sempurnakanlah imanmu. Mamah merestuimu”.
“Bagaimana dengan abah ?”
“Bicaralah dengan abahmu sekarang !”
“Baik mah”.
Aku pun menelponn abah untuk meminta restu darinya.
“ Hallo bah, Assalamualaikum warahmatullah wabarakaatuh, bah maaf ada laki laki yang melamarku. Dia seorang hafidz dan dokter. Berasal dari keluarga baik baik. Aisyah ingin meminta restu dari abah. Apakah abah merestui Asiyah untuk menikah dengannya ?”“waalaikummussalm warahmatullah wabarakaatuh, InsyaAllah nak abah akan mendukung apa yang menjadi pilihanmu. Selagi dia orang baik dan kamu bahagia, maka abah akan restui kalian. Menikahlah nak..”
Jawab abah.
“Terimakasih atas restunya bah, Maaf telponnya harus Aisyah tutup. Karena Aisyah harus segera memberi jawaban kepada keluarga laki laki”.
“ Iya nak… doa abah selalu mnyertaimu”.
Setelah berbincang degan abah, akhirnya aku mendapatkan keputusan. Mari mah kita kembali ke sana, Aisyah akan mengumumkan keputusan Aisyah.
Aku dan mamah pun kembali duduk di ruang tamu.
“ Bismilllah, dengan izin Allah dan restu orang tua..InsyaAlllah aku bersedia untuk menjadi pendamping hidupmu Ilham. Menerima dan menyayangi mu beserta keluargamu seperti aku menyayangi keluarga ku sendiri. Dan aku mohon, sayangilah keluargaku seperti kamu menyayangi keluargamu sendiri”.
Alhamdulillah…..ucap semua orang dengan bahagia.
“InsyAllah Aisyah, aku akan membimbingmu dan menjadikanmu istri di dunia dan akhiratku. Seperti dulu aku berjanji untuk melamarmu di 10 tahun mendatang, maka hari ini aku berjanji akan membahagiakanmu sepanjang hidupku. Menjadi imam yang baik, dan aku akan selalu mendukungmu untuk semua hal hal baik yang kamu lakukan”.
“ Terimakasih Ilham..”
Hari mulai larut,setelah selesai membahas persiapan pernikahan keluarga Ilham pamit untuk pulang
“ kami pamit dulu ya nak, Semoga Allah mempermudah jalan kita”…
“Aamiin…..sautku dengan malu malu.
PERNIKAHAN
1 minggu kemudian, aku resmi menjadi istri sah Bang Ilham. Alhamdulillah sempurnalah imanku. Pernikahanku hanya sederhana, aku sengaja tidak mengundang banyak orang. Hanya keluarga dekat dan teman teman dekat saja.
Sesudah menikah, bang Ilham selalu membantu yayasan. Karena profesinya sebagai seorang dokter, membuat bang Ilham tak tanggung tanggung untuk bertangggung jawab atas pengeluaran yayasan.
Sekarang tanggung jawab yayasan tak hanya menjadi tanggung jawab aku dan kakak, namun suami kami turut bertanggung jawab atas yayasan kami.
Tak tanggung tanggung Ilham mencarikan donor mata dan membiayai operasi mataku. Operasi berjalan lancar, sehingga aku bisa melihat dunia lagi. Dua tahun setelah menikah dengan bang Ilham, Alhamdulillah Allah memberi kami amanah untuk
merawat anak. Allah memberi kami amanah 2 anak kembar sekaligus, laki laki dan perempuan.
Butuh perjuangan untuk mendidik mereka, menjadikan mereka anak yang sholeh sholihah. Setiap hari aku berusaha, mendengarkan murottal kepada anak anak sSetidaknya 5 juz perhari. Karena saat kecil,anak lebih mudah menangkap apa yang mereka dengar dan lihat.
Walaupun aku telah mempunyai 2 orang anak, tetapi aku masih bisa meluangkan waktuku untuk mengasuh adik adik panti. Dan tetap melaksanakan kegiatan komunitas hijrah kami dengan baik. Selain itu kami bisa mendatangkan 3 musyrifah untuk membantu adik adik panti. Panti asuhan untuk ikhwan pun bisa kami bangun bersama lengkap dengan musyrif juga.
SAKIT
8 tahun setelah pernikahan, aku didiagnosa mengidap kanker otak stadium akhir. Karena terlalu sibuk, membuat rasa sakit menjadi tak terasa. Aku pasrah mendengar penyakit yang aku derita.
Tak mengapa jika aku sakit,karena akan menggugurkan dosa dosa di masa lampau. Perasaan takut, jika Allah memanggilku lebih cepat maka aku tidak bisa mendoakan dan berbakti kepada orang tua lagi serta kepada Bang Ilham.
Namun jika Allah mengambil orang tua atau Bang Ilham lebih cepat, maka aku
akan kehilangan surgaku.
“ bang, jika aku meninggal nanti…tolong lanjutkan perjuanganku. Jangan sampai komunitas hijrah dan yayasan berhenti begitu saja setelah peninggalanku. Tolong jaga orang tuaku, dan anak anak kita. Didik mereka supaya menjadi orang yang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Dan aku ikhlas, jika kamu ingin mencari pendamping lagi . Carilah pendamping hidup yang baik, menyayangi Abang dan anak anak dengan sepenuh hati”.
“ jangan bicara seperti itu Aisyah, kamu pasti sembuh. Kita akan merawat anak anak bersama. Dan aku tidak akan menggantimu di hatiku dengan wanita lain. Kamu adalah bidadari dunia dan surgaku”.
2 Minggu aku di rumah sakit, setiap hari aku berdoa agar Allah mematikanku dalam keadaan khusnul katimah. Mematikanku dalam keadaan merendahkan diri di hadapa-Nya. Ya mematikanku dalam keadaan sujud.
“ bang tolong ambilkan aku buku dan bolpoin, aku ingin menulis sesuatu. Aku ingin anak anakku melihat ini saat mereka besar “.
Setelah selesai menulis, aku pun menunaikan sholat subuh karena memang sudah masuk waktu sholat. Sebisa mungkin aku sholat dalam keadaan berdiri.
“Assalamualaikum warahmatullah…. “

Gerakan terakhir dalam sholatpun telah selesai. Saat menoleh ke belakang Ilham
melihat Aisyah tergeletak di lantai. Segera ia periksa keadaan istri tercintanya itu. Tidak ada denyut nadi yang yang terdengar atau berdetak.
Ilham berusaha untuk memompa jantungnya, agar bisa berdetak lagi. Namun Allah berkehendak lain.
Innalillahi wainna ilaihi raaji’un. Aisyah telah pergi menghadap Sang Pencipta. Ilham dan keluarga sok, tapi mereka sadar bahwa semua yang bernyawa pasti akan
mengalami kematian.
Tak lama kemudian, Ilham dan keluargannya membawa Aisyah pulang untuk di sholatkan dan dimandikan. Saat perjalanan pulang, mereka sekeluarga mencium bau yang sangat harum. Entah dari mana asalnya, yang pasti mereka belum pernah mecium bau seperti itu.
Saat Ilham bertanya kepada keluarganya, adakah diantara mereka yang memakai wewangian ? mereka menjawab tidak. Sampai tiga kali ia bertanya,namun jawabnnya masih tetap sama…”tidak”.
Sesampainya di rumah, mereka segera mensucikan dan menyolatkan jenazah Aisyah, tak disangka banyak sekali yang turut menyolatkannya. Banyak sekali orang yang menyayangi Aisyah. Tak hanya itu, banyak juga orang yang turut serta dalam pemakamannya.
Saat jenazah akan dikuburkan, bau itu semakin merebak harumnya. Dan baru Ilham sadari, ternyata bau harum itu berasal dari jenazah Aisyah, istri tercintanya.
Pemakaman hari itu berjalan dengan lancar. Tidak ada halangan sama sekali. Ilham beserta keluarganyapun kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Ilham segera melihat surat yang di tulis istrinya.
“Dear anak ku tecinta, Ibu sangat menyayangi kalian. Jadilah anak yang baik, jadilah hamba Allah yang taat. Lanjutkan perjuangan ibu yaaaaa. Rawatlah kakek nenekmu dengan baik, umi sudah tidak bisa merawat beliau, umi yakin kalian bisa mengambil tanggung jawab ini. Dear mamah dan abah, maafkan anakmu ini yang belum bisa berbakti kepada mamah dan abah, maafkan anakmu yang belum bisa membahagiakan di sepanjang hidup mamah dan abah. Tetap semangat dalam menjalani hidup. Tetap semangat dalam beribadah kepada Allah. InsyaAllah kita akan berkumpul bersama lagi di surga. And dear my beloved husband, aku tidak pergi. Kita masih bersama, hanya saja kamu di alam dunia dan aku di alam akhirat. Jaga anak anak dengan baik, aku tunggu kamu di surga. I Love You”.
Pesan terakhir Aisyah untuk keluarganya.
“Aku bersyukur memiikimu, aku ikhlas atas kepergianmu. Tunggu aku di surga……Aisyah…”
Gumam Ilham dalam hati.
THE END
SUJUD TERAKHIRKU Cerpen karya Nafisa Almara, siswi XII IPA SMA Muhammadiyah 4 Andong


Alhamdulillah sebuah karya Motivasi,.kesulitan,kesedihan bukan sebagai penghalang untuk mewujudkan cita cita,
Sebaliknya menjadikan kesulitan, kesusahan sebagai penggerak , jalan,kekuatan untuk sukses dunia dan akhirat
Semangat terus berkarya ya nak, Semangat untuk sellalu tebar kebaikan,manfaat,Semoga Allah kasih kemudahan dan kkeberkahan Hidup
🥰🙏💪❤️